Sabtu, 07 April 2012

HAKIKAT PENDIDIKAN

Hakikat Pendidikan
8
Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of culture and transfer of religius yang semoga diarahkan pada upaya untuk memanusiakan manusia. Hakikat proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah perilaku individu atau kelompok agar memiliki nilai-nilai yang disepakati berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. Menurut pandangan Paula Freire pendidikan adalah proses pengaderan dengan hakikat tujuannya adalah pembebasan. Hakikat pendidikan adalah kemampuan untuk mendidik diri sendiri. Dalam konteks ajaran Islam hakikat pendidikan adalah mengembalikan nilai-nilai ilahiyah pada manusia (fitrah) dengan bimbingan Alquran dan as-Sunnah (Hadits) sehingga menjadi manusia berakhlakul karimah (insan kamil) Dengan demikian hakikat pendidikan adalah sangat ditentukan oleh nilai-nilai, motivasi dan tujuan dari pendidikan itu sendiri.Maka hakikat pendidikan dapat dirumuskan sebagi berikut :
1. Pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik;
2. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat;
3. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat;
4. Pendidikan berlangsung seumur hidup;Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu.
Hakikat Pendidikan Islam Pendidikan secara semantik menunjukkan pada suatu kegiatan atau proses yang berhubungan dengan pembinaan yang dilakukan seseorang kepada orang lain . Pengertian tersebut belum menunjukkan adanya program, sistem, dan metoda yang lazimnya digunakan dalam melakukan pendidikan atau pengajaran.
9
Masih dalam pengertian kebahasaan ini, dijumpai pula kata tarbiyah dalam bahasa Arab. Kata ini sering digunakan oleh para ahli pendidikan Islam untuk menerjemahkan kata pendidikan dalam bahasa Indonesia. Selain kata tarbiyah terdapat pula kata ta‟lim. Kata ini oleh para penerjemah sering diartikan pengajaran. Selain kata tarbiyah terdapat pula kata ta‟lim. Kata ini oleh para penerjemah sering diartikan pengajaran. Dalam pengertian itu Yusuf A. Faisal, pakar dalam pendidikan mengatakan bahwa “Pengertian pendidikan islam dari sudut etimologi (ilmu akar kata) sering dikatakan istilah ta‟lim dan tarbiyah yang bersal dari kata allama dan rabba yang dipergunakan dalam al-Qur‟an sekalipun kata tarbiyah lebih luas konotasinya, yaitu mengandung arti memelihara, membesarkan dan mengandung makna sekaligus mengandung makna mengajar (allama). Selanjutnya Faisal mengutip pendapat Naquib Alatas dalam bukunya Islam and Secularism sebagaimana tersebut diatas terdapat pula kata ta‟dib yabg ada hubungannya dengan kata adab yang berarti sopan santun.” (Nata Abuddin 2005: 5)
Selanjutnya bagaimanakah penjelasan yang diberikan al-Quran terhadap ketiga kata tersebut ?. Untuk ini Muhammad Fuad „Abd al-Baqy dalam bukunya Al-Mu‟jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur‟an al Karim telah mengimformasikan bahwa dalam al-Qur‟an kata Tarbiyah dalam kata yang serumpum dengannya diulang sebanyak lebih dari 872 kali. Kata tersebut berakar pada rabb. Kata ini sebagaimana dijelaskan oleh al-Raghib al-Ashfahany, pada mulanya berarti al-Tarbiyah yaitu insya‟ al-Sya‟i halan ila halin ila had tamam yang artinya mengembangkan atau menumbuhkan sesuatu tahap demi setahap sampai pada batas yang sempurna. Kata selanjutnya digunakan oleh al-Qur‟an ntuk berbagai hal antara lain digunakan untuk menerangkan salah satu sifat atau perbuatan Tuhan, yaitu rabb al-„alamin yang artinya Pemelihara, Pendidik, Penjaga, Penguasa dan Penjaga sekalian alam. (lihat Q.S, al-Fatihah, 1:2; al-Baqarah 2:131; al-Maidah, 5:28; al-An‟am, 6:45; 71; 162 dan 164; al-Ar‟af, 7:54; dan seterusnya) selain kata rabb digunakan untuk arti sebagaimana disebut diatas, digunakan pula untuk arti yang obyeknya lebih terperinci lagi, yakni bahwa yang dipelihara, dididik dan seterusnya ada yang berupa al-„arsyy al azhim, yakni arsy yang
10
demikian besar (Lihat Q.S 9:129), al-Masyaariw yakni ufuk timur tempat terbitnya matahari (Q.S 37:5), aba‟ukum al-awwalun yakni nenek moyang para pendahulu orang kafir Quraisy (Q.S 37:126), al-Maghrib ufuk barat tempat terbenamnya matahari (Q.S 55:17), al-Baldah yakni negeri dalam hal ini adalah Makkah al-Mukarramah (Q.S 2:126), Bait yakni rumah yang dalam hal ini adalah Baitullah, Kabah yang ada di Makkah. Beberapa ayat tersebut diatas menunjukan dengan jelas, bahwa kata rabb sebagaimana yang ditunjukan pada al-Quran ternyata digunakan untuk menunjukan obyek yang bermacam-macam, yang dalam ini meliputi benda-benda yang bersifat fisik dan non fisik. Dengan demikian pendidikan meliputi pemeliharaan terhadap seluruh mahluk Tuhan. Adapun kata yang kedua, dalam hal ini „allama sebagaimana dijelaskan oleh al-Raghib al-Ashfahany, digunakan secara khusus untuk menunjukan sesuatu yang dapat diulang dan diperbanyak sehingga meninggalkan bekas atau pengaruh pada diri seseorang dan ada pula yang mengatakan bahwa kata tersebut digunakan untuk mengingatkan jiwa agar memperoleh gambaan mengenai arti tentang sesuatu, dan kadang kata tersebut juga dapa diartikan pemberitahuan. Kata ta‟lim yang berakar padda kata „allama dengan erbagai akar kata yang serumpum dengannya delam al-Quran disebut sebanyak lebih dari 840 kali dan digunakan untuk arti berbagai macam. Terkadang oleh Allah digunakan untuk menjelaskan pengetahuan-Nya yang diberikan kepada manusia (Lihat Q.S 2:269), digunakan untuk menjelaskan bahwa Allah maha mengetahui terhadap segala sesuatu yang terjadi pada manusia (Lihat Q.S 11:79) digunakan untuk menjelaskan bahwa Allah mengetahui orang-orang yang mengikuti petunjuknya. (Q.S 2:143). Dari informasi ini terlihat bahwa kata ta‟lim dalam al-Quran mengacu pada adanya sesuatu berupa pengetahuan yang diberikan kepada seseorang.. jadi sifatnya intelektual. Sedangkan kata tarbiyah lebih mengacu pada bimbingan, pemeliharaan, arahan, penjagaan, dan sifatnya pembentukan kepribadian.
Adapun mengenai ta‟dib yang berakar pada kata addba tidak dijumpai dalam al-Quran. Kata tersebut dijumpai dalam hadist antara lain ang berbunyi :
11
addabani rabby fa ahsana ta‟diby, artinya : “ Tuhanku telah mendidikku dan telah membuat pendidikankku sebaik-baiknya. Dalam pembahasan selanjutnya dijumpai perbedaan pendapat dikalangan para ahli menengenai pemakaian kata tersebut dalam hubungannya dengan pendidikan. Abdurrahman al-Nahlawi, misalnya lebih cenderung menggunakan kata tarbiyah untuk kata pendidikan. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa kata tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu pertama dari kata rabba , yarbu, yang berarti bertambah dan bertumbuh, karena pendidikan mengandung misi untuk menambah bekal pengetahuan kepada anak didik dan menumbuhkan potensi yang dimilikinya; kedua dari kata rabbya, yarba, yang beararti menjadi besar, karena pendidikan juga mengandung arti untuk membesarkan jiwa dan memperluas wawasan seseorang, dan ketiga dari kata rabba yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara sebagaimana telah dijelaskan diatas. Kemudian Naqwib al-Attas berpendapat bahwa:” kata yang paling tepat untuk mewakili kata pendidikan adalah kata ta‟dib. Sementara istilah tarbiyah dinilainya terlalu luas yakni mencakup pendidikan untuk hewan, tumbuhan dan sebagainya. Sedangkan kata ta‟dib sasaran pendidikannya adalah manusia.” (Nata Abuddin 2005: 13) Berbeda dengan kedua pendapat diatas, Abdul Fattah Jalal berpendapat bahwa istilah yang lebih komprehensip untuk mewakili istilah pendidikan adalah istilah ta‟lim. Menurutnya istilah yang terakhir ini (ta‟lim) justru lebih universal dibanding dengan istilah tarbiyah. Untuk ini Jalal mengajukan alasan, bahwa kata ta‟lim berhubungan dengan pemberian bekal pengetahuan. Pengetahuan ini dalam islam dinilai sesuatu yang dimiliki kedudukan yang tinggi. Hal ini misalnya dapat dijelaskan melalui kasus Nabi Adam yang yang diberi pengajaran (ta‟lim) oleh Allah. Dengan sebab ini, para malaikat bersujud (menghormati) Nabi Adam lihat Q.S Al-Baqarah.
Uraian diatas dapat memperlihatkan dengan jelas bahwa dikalangan para ahli pendidikan sendiri masih belum terdapat kesepakatan mengenai penggunaan dari ketiga istilah tersebut untuk mewakili kata pendidikan. Untuk menghindari
12
pembicaraan berkepanjangan yang dasarnya hanya pemainan kosa kata, maka Konferensi Internasional pendidikan Islam pertama (First World Conferention Muslim Education) yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Azis, Jeddah, pada tahun 1977, belum berhasil merumuskan secara jelas tentang definisi pendidikan, khususnya menurut Islam. Dalam bagian rekomendasi konferensi tersebut, para peserta membuat kesimpulan bahwa pengertian pendidikan menurut islam adalah keseluruhan pengertian yang terkandung didalam ketiga istilah tersebut. Namun demikian, ketiga istilah tersebut sebenarnya memberi kesan bahwa antara satu dan yang lainnya berbeda. Beda istilah ta‟lim mengesankan memberikan proses pemberian bekal pengetahuan. Sedangkan istilah tarbiyah, mengesankan proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan kepribadian dan sikap mental.sementara istilah ta‟dib mengesankan proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan kepribadian dan sikap mental, sedangkan sitilah ta‟dib mengesankan proses pembinaan terhadap sikap moral dan estetika dalam kehidupan yang lebih mengacu pada peningkatan martabat manusia. V.Kesimpulan Hakikat pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia dan diarahkan pada tujuan yang diharapkan agar memanusiakan manusia atau menjadikannya sebagai insan kamil, manusia utuh atau kaffah. Hakikat pendidikan ini dapat terwujud melalui proses pengajaran, pembelajaran (ta‟lim dan tadris), pembersihan dan pembiasaan (tahdzib dan ta`dib), dan tadrib (latihan) dengan memperhatikan kompetensi kompetensi pedagogi berupa profesi, kepribadian dan sosial. Pendidikan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin , karakter, pikiran dan tubuh peserta didik yang dilakukan secara integral tanpa dipisah-pisahkan antara ranah-ranaha tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar